Perbedaan yang membuatku bersyukur

Aku dan Mama, 1995 (Dili, Timor Timur)

Berbeda. Itulah diriku. Yang terlahir normal, namun ternyata memiliki kelainan fisik setelah usiaku menginjak 4 bulan. Panggil saja aku Indah. Itu adalah nama sapaan dari Winda S. Saad. Sebuah nama yang diberikan orang tuaku sejak aku bayi. Aku lahir 17 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 19 Februari 1995 di kota Dili. Sebuah kota yang saat itu masih merupakan ibukota dari provinsi Timor Timur (Indonesia), atau yang kini telah berganti nama dan wilayahnya menjadi negara Timor Leste.

Sejak kecil, aku memang sudah tampak berbeda dengan anak-anak seusiaku lainnya. Disaat bayi-bayi seusiaku lainnya sudah bisa merangkak, aku hanya bisa duduk diam dipangkuan Mama. Disaat aku melihat teman-temanku bisa berlari cepat, aku hanya bisa ikut berlari walaupun itu sangat lambat. Dan disaat orang-orang mengatakan bahwa aku berjalan agak pincang, aku justru tidak pernah merasa aneh jika aku berjalan.

Makassar, 1997 (hihihi… xD)

Aku memang memiliki kekurangan, yang sejak kecil sudah biasa kuanggap sebagai teman hidupku. Namun kekurangan tersebut justru membimbing aku untuk tidak gampang menyerah dan putus asa atas keadaan apapun yang kualami. Aku masih merasa normal dan pastinya sehat. Aku bahkan tidak pernah mempermasalahkan keterbatasan gerak yang kumiliki. Walaupun begitu, aku bersyukur karena terlahir dengan organ dan anggota tubuh yang lengkap. Aku bersyukur dengan semua itu. Sangat bersyukur. Aku pun selalu berusaha untuk mengacuhkan semua ejekan dari teman-teman saat di sekolah. Meskipun berat, pandangan sinis mereka selalu berusaha kubalas dengan senyuman yang ramah.

Di masa Sekolah Dasar, jika dibandingkan dengan anak-anak lainnya, mungkin aku bisa dibilang anak yang pemalu dan cukup pendiam. Namun hal itu terjadi pada saat mereka belum mengenal diriku yang sebenarnya. Terkadang aku juga bisa menjadi anak yang pecicilan, cerewet, dan tidak bisa diam. Aku tidak pernah sekalipun mempermasalahkan apa yang berbeda dari diriku, dengan teman-temanku yang lain.

Semasa kecil, aku juga masih tergolong anak yang cerewet dan ceplas-ceplos. Tidak ada bedanya dengan anak-anak normal yang tidak bisa diam.

Makassar, 2000 (5 tahun)

Tentang keluarga, sahabat, maupun orang-orang yang dekat denganku, aku merasa tidak berbeda. Aku hanya merasa sulit jika harus duduk sopan ataupun bersila seperti mereka, yang sangat mudah melakukannya. Kedua lututku sangat sulit jika dilipat tekuk, apalagi jongkok. Bahkan, aku pernah bertanya-tanya dalam hati, β€œbagaimana rasanya orang-orang itu duduk sopan dan bersila tanpa rasa sakit, dan tanpa harus disusahkan dengan kedua lutut yang kaku?”

Advertisement

Mungkin, pertanyaan itu hanya sebuah pikiran anak-anak yang ingin tahu saja. Tapi yang jelas, aku tidak pernah merasa rendah diri jika duduk bergabung bersama mereka yang normal, meskipun seringkali mereka heran melihat posisi dudukku yang aneh. Terlebih saat aku masih belajar mengaji di Masjid. Saking herannya teman-teman melihatku, mereka sampai ada yang menertawakanku. Tapi, ya sudahlah. Buat apa aku mempermasalahkan hal itu. Semua manusia kan nggak ada yang sempurna. Karena yang sempurna itu hanyalah Sang Pencipta.

Β Aku, 12 tahun (2007)

Masa-masa sekolahku memang tidak lepas dari sekumpulan mimik wajah heran dan bingung dari orang-orang yang baru mengenalku. Bahkan ada diantara mereka yang berterus terang mengucapkan kata-kata yang bisa saja membuatku sedih. Namun setelah mengejek karena melihat kondisi fisikku yang tidaklah senormal mereka, biasanya mereka memberikan senyuman yang ramah padaku. Aku pun merasa senang, dan selalu berharap serta menganggap bahwa ejekan itu sebenarnya bukanlah dari hati mereka. Melainkan hanya terucap di mulut saja.

Anehnya, aku masih merindukan masa-masa itu setelah menginjak usia remaja. Masa-masa sekolah yang kujalani di sekolah dasar formal kurasakan sangat bahagia. Memiliki banyak teman dan sahabat yang menyayangi dan menerimaku apa adanya, adalah hal terindah yang pernah kurasakan di sekolah umum yang masih termasuk salah satu sekolah favorit di kota Makassar itu.

Kini, aku hidup dengan apa adanya. Sebuah keadaan akhirnya mengharuskanku untuk melanjutkan pendidikanku hanya di rumah saja. Usiaku sudah cukup dewasa untuk menyadari arti sebuah kehidupan yang sebenarnya. Karena aku tahu, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Semuanya sama, dan juga pasti memiliki suatu kekurangan, dan juga kelebihan mereka masing-masing. Entah itu banyak maupun sedikit.

Aku dan dik Mimi (2008)

Karena aku percaya, Allah itu Maha Adil. Walaupun kondisi fisikku berbeda dengan mereka, tapi aku tetap merasa bersyukur hidup di dunia ini. Dikelilingi banyak orang yang selalu menyayangiku, baik itu teman, sahabat, saudara, maupun keluarga dekat. Kalian pastinya juga harus bersyukur. Mungkin kalian memang memiliki fisik yang lebih normal dari aku. Kalian bisa bergerak dengan bebas tanpa harus merasakan sakit, dan tanpa perlu memusingkan masalah ejekan dari orang lain. Aku juga nggak, sih. Tapi, kalian juga harus bersyukur dengan apapun keadaan kalian. Jangan pernah mengeluh dengan keadaan, karena semua orang juga pasti pernah mempunyai masalah. Dan semua orang juga pasti memiliki kekurangan dan kelebihan mereka masing-masing.

Semua manusia yang hidup di dunia ini tidak ada yang sempurna. Yang sempurna hanyalah Allah swt. Sang Pencipta langit, Bumi, dan seluruh isinya. Termasuk kita, makhluknya yang diciptakan paling sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lain. Memiliki akal, dan terlahir dengan hati yang suci. Jadi bersyukurlah! Dan ingat, apapun keadaanmu, jangan pernah menyerah, dan jangan putus asa!

Tetap semangat! Tetap Berkarya! Karena Hidup dimulai saat kamu Tidak Menyerah! πŸ™‚

And Now! Me πŸ™‚

Winda Aulia Saad

Advertisement