Cerita ini adalah pengalamanku disaat masih duduk di kelas 5 SD, sekitar tahun 2006 lalu.

Saat itu, aku dan teman-teman sekelasku di kelas 5/A, ada jadwal olahraga, dan kebetulan, Pak Guru olahraga kami mengizinkan kami untuk berenang disalah satu tempat berenang yang ada di kota Makassar.

Dan karena aku sudah diizinkan orang tuaku untuk berangkat kesana, Aku pun berangkat bersama Pak Guru dan teman-teman dengan mengendarai mobil sekolah.

Sebenarnya, bukan cuma kelas kami doang yang ada kegiatan berenang. Semua kelas ada, dari Sudirman 1 sampai Sudirman 4, (kelasku di Sudirman 3) dan kelas unggulan juga rutin berenang. cuma sekali-sekali, sih. Itupun kalau cuaca, trannsport, tempat, beserta dananya mendukung.

Oh iya, karena keadaan fisikku tidak seperti anak-anak normal lainnya, setiap ada kegiatan seperti berenang, dll. Aku pasti ditemani waliku. entah itu Mama, atau kalo Mama nggak sempat, biasanya juga Nenek yang menemaniku. Kecuali kalau olahraganya ke lapangan Karebosi, yang saat itu letaknya tepat diseberang jalan Sekolahku.

Okey, kembali kekisah awal. Saat aku dan teman-teman telah sampai ditempat tujuan, kita langsung masuk keruang ganti baju. teman-teman yang belum mengenakan baju renang pun diberi waktu untuk berganti pakaian. (Kalau aku, pastinya sudah, karena aku memakainya di rumah, jadi tinggal buka seragam sekolah doang. Nggak ribet)

Setelah semuanya siap, kamipun langsung terjun kedalam kolam. Jujur sih, waktu pertama kali ikut kegiatan berenang, (sekitar kelas 3) aku hanya diam berdiri didalam kolam, dan berpegangan erat pada besi dipinggir kolam renang. (kampungan, yah?) maklumlah, selama ini, waktu kecil kan, aku hanya biasa diajak ke Pantai, main pasir, cari kerang, dan makan-makan bersama keluargaku. Tapi, ada juga loh, yang tingkahnya sepertiku. Mmm… nggak usah kusebut namanya, deh. Dia juga temanku yang perempuan. Malah, sampai waktu berenang hampir selesai, dia masih aja pegangan dipinggir kolam. Jadinya, waktu itu aku nggak minder, karena ada dia.

Advertisement

 

Pernah suatu kali, ditengah waktu berenang, dan anak-anak Sudirman lainnya sudah selesai berenang (otomatis, kolam renangnya jadi lega, dan lebih luas, karena berkurangnya siswa) akupun mulai sedikit demi sedikit berjalan ketengah kolam. Terkadang aku hampir terpeleset karna licinnya lantai kolam, dan hampir diusili teman cowok.

Kolam renang tempat kami olahraga terbagi 2. 1 bagian yang luas berkedalamannya satu meter, dan 1 bagiannya lagi 2 meter. Dan hanya dibatasi dengan tali yang kuat. Disaat aku tengah berjalanย  disamping kolam 2 meter sambil memegang talinya, tanpa terasa, setengah dari telapak kakiku menginjak tegel yang 1 meter, dan setengahnya lagi, hampir masuk ke kolam yang 2 meter.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk menarik tubuhku keatas, karena kalau nggak, tubuhku bisa tertarik kebawah karna kakiku tak bisa dikendalikan lagi. Beberapa teguk kecil air memasuki mulutku, Akupun panik, karna hampir tenggelam. Untung saja, Allah menolongku dari kesulitan itu. Karna saat itu tidak ada yang melihatku. Orang tua dan Guruku memang tidak ada yang melihat kesulitanku, karena saat itu aku tak bisa berteriak gara-gara banyak air yang memenuhi mulutku. Mungkin sampai sekarang, nggak ada satupun guru ataupun teman-temanku yang tahu peristiwa kecil yang menimpaku itu. Kecuali satu teman perempuanku. Dia langsung menanyaiku, sesaat setelah aku membalik badan dari kolam 2 meter itu. (tapi dia tidak tahu kejadian yang sebenarnya.)

“Untung aja, saat itu aku memegang tali pembatas itu. Kalo nggak, aku bisa tenggelam di kolam 2 meter itu.” ucapku dalam hati, sesaat setelah lolos dari kesulitan itu. Terima kasih, Ya Allah… engkau memang Maha Menyelamatkan.

 

Gimana ceritaku? bagus dan seru nggak? Itu berdasarkan pengalaman kisah nyata, loh! Apa kalian juga pernah mengalami hal yang sejenis dengan peristiwa kecilku tadi? Cerita-cerita, yah… ๐Ÿ™‚

Advertisement